Mar 30, 2010

untitled 2

Bab 2
Ada Sesuatu Di Laboratorium Biologi


Hari ini, nggak tahu kenapa aku ingin sekali cepat-cepat sekolah dan ketemu Tyler. Bukan apa-apa, aku ingin memberitahunya tentang hal yang diberitahu ibu kepadaku semalam. Ah, aku masih nggak percaya, loh, kalo aku ini benar-benar utusan Dewa Forseti.

Aku sampai di sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Yah, nggak ada kesempatan untuk ngobrol sama Tyler. Tapi kan, aku dan dia sekelas jadi yaa berdoa aja supaya ada guru yang abstain mengajar hari ini.

Pelajaran pertama, Mr. Furthick, guru Biologi. Biasanya sih teman-temanku memanggilnya Mr. Bulu Tebal (Fur: bulu, Thick: Tebal) tapi tentu saja itu kalo nggak ada Mr. Furthick. Fyi, guru biologi yang numero uno galaknya ya cuma dia, makanya nggak ada yang berani ngatain dia. One more, dia punya sixth sense. Misalnya, waktu itu Derry nekat membuang permen karet yang dikunyahnya di bawah bangkunya, pada saat pelajaran Mr. Furthick. Pada saat pelajaran usai, Mr. Furthick memanggil Derry dan langsung menyuruhnya membuang permen karet itu. Oke, dan itu nggak ada yang ngasih tau Mr. Furthick. Sepertinya dia punya lebih dari dua mata, hahaha nggak, aku bercanda.

“Anak-anak, hari ini kita akan praktek di laboratorium biologi. Bawa buku catatanmu, dan cepat menuju laboratorium!” ujar Mr. Furthick. Oh, laboratorium biologi. Masih merinding denger nama itu.

Pelajaran biologi hari ini membahas tentang anatomi tubuh manusia. Mankind tubuh manusia diturunkan dari atas lemari dan diletakkan di atas meja di tengah laboratorium. Beruntung, aku dapat tempat duduk di dekat mankind itu. Maklum, mataku sedikit minus dan belum pakai kacamata, jadi agak buram kalau melihat benda yang jauh.

Mr. Furthick membahas tentang pencernaan tubuh manusia. Aduh, rasanya bosan, ngantuk, ingin tidur saja rasanya. Aku mencari cara supaya aku nggak mengantuk. Aku mengamati mankind manusia itu.

Tiba-tiba, Ting! Mata mandkind itu melirik ke arahku. Ah, tidak-tidak, itu pasti hanya halusinasiku. Ting! Hah? Mankind itu melirikku lagi. Oh God, aku yakin ini hanya mimpi. Aku yakin. Aku yakin. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Aku memberanikan diri untuk melirik ke arah mankind itu.



Nggak terjadi apa-apa. Huh, semuanya baik-baik saja. Mankind itu nggak melirikku lagi. Tapi tiba-tiba ting! Mandkind itu sekarang memandangku! Aku takut… lalu aku mencari alasan supaya keluar dari lab biologi.

“Mr. Furthick?” kataku. “Hem, ya, ada apa Nona Martinez?” ujar Mr. Furthick. “A…aku…aku… mau ke kamar kecil ya, Mr?” kataku gugup. Mankind menyeramkan itu ada di dekatku, dan aku berusaha untuk tidak melihat mandkind itu. “Iya…baiklah” ujar Mr. Furthick.

Aku berlari keluar laboratorium sambil memikirkan, apa sebenarnya mankind itu?




Malamnya aku nggak bisa tidur tenang. Pikiranku masih saja mengembara di laboratorium biologi. Aku masih memikirkan kejadian tadi siang. Sebenarnya apa sih mankind itu? Lalu ada urusan apa dia denganku? Aduh, takut. Akhirnya aku ketiduran. Dan aku bermimpi. Mimpi yang sangat mengerikan. Serius, aku nggak bohong.

Dalam mimpiku, aku berada di sekolahku. Pulang sekolah.seperti biasanya, aku menuju ke pintu gerbang dan segera pulang. Tiba-tiba ku bertemu seorang pengemis di samping sekolahku. Aku merasa iba, jadi kuberinya uang setengah dari sisa uang jajanku tadi. Pengemis itu kemudian langsung berkata kepadaku. Aneh.

“Nak, hati-hati di jalan ya” begitu katanya. “Hah?” aneh deh, ada pengemis yang belum sama sekali kukenal, langsung mengucapkan seperti itu. aku meninggalkan pengemis itu, dan jalan menuju pinggir jalan raya untuk pulang. Aku menengok lagi ke belakang, dan pengemis itu nggak ada lagi.

Aku naik kendaraan umum menuju ke rumah, dan anehnya, kendaraan yang aku naiki itu berbeda jalur dari biasanya. ini merupakan jalur ke arah yang jauh dari rumahku. Dan a-neh-nya, aku biasa biasa saja, tidak panic.

Kemudian kendaraan itu sampai di sebuah bengkel, betapa terkejutnya aku, begitu aku sadar bahwa tak ada lagi penumpang di kendaraan itu, selain aku. Supirnya turun, masuk kedalam bengkel, dan aku ditinggal sendirian di dalam kendaraan itu. ohiya, lebih tepatnya bus. Kendaraan yang kunaiki adalah bus.

Dari dalam bengkel, keluar banyak sekali makhluk kerdil yang membawa palu, menuju ke bus yang aku naiki sekarang. Kerdil-kerdil itu membawa palu yang sangat tajam kelihatannya, hidungnya besar, berjanggut panjang berwarna merah, dan diatas kepalanya adalah topi besi yang biasanya dipakai oleh bangsa Viking.

Karena takut, aku bersembunyi di bawah bangku. Para dwarf itu semakin dekat karena suara mereka yang aneh mulai terdengar jelas, bahwa mereka ada di sekitar bus ini. Dan mereka tahu, ada-aku-di-sini.

Dwarf itu menggedor gedor pintu bus dan aku semakin ketakutan, bus itu bergoyang ke kanan, ke kiri dan tubuhku mulai lecet lecet. Untungnya, saat-saat mengerikan itu belum terjadi, dan aku bangun dari mimpiku.

Aku mandi keringat, kaosku basah semua. Masih jam 3 dini hari. Aku kembali mencoba untuk tidur, tapi nggak bisa. Mataku hampir terpejam, ketika tiba-tiba ada seorang anak perempuan kecil berdiri di pintu dan memanggilku.

“Hei, kau! Tau aku tidak?” katanya. Aku merinding, dan bingung. Gimana caranya dia bisa masuk ke kamarku? Aduh, aneh aneh aja sih. “Ngg…ngg..nggak” jawabku terbata-bata.

“Aku yang di lab biologi tadi loh!” katanya, lalu menghampiriku. Anak itu cantik sekali, kulitnya putih, memakai dress pendek berwarna krem, rambutnya cokelat pirang terurai panjang.

“Hah? Di lab? Kau…. Yang jadi mankind?” kataku tak percaya. Hidupku semakin aneh semenjak tragedi fitnah Mrs. Edmund. Dia menatapku, tersenyum dan berkata “Iya hahaha, kau pintar ya! Aku bangsa elf, dating kesini ingin memberitahumu sesuatu!”
Aduh, makin aneh aja makhluknya. Katanya aku utusan dewa forseti, lalu sekarang ditemui elf. “Semua yang diberitahu ibumu itu salah…” kata anak itu. “Maksudmu?” kataku nggak percaya.

“Para Dewa sudah nggak mengirimkan utusan lagi sejak nenekmu dilahirkan.” Katanya serius. “Lalu?” jawabku, agak sedikit kagek sih, tapi sedikit lega juga.
“Sebenarnya kau nggak ada urusannya dengan Loki yang kata ibumu menyamar jadi kau dan temanmu Ty…Ty…Tyler itu. tapi, karena kau sudah terlanjur tahu, kami bangsa elf nggak bisa membiarkanmu memberitahu tentang rahasia dunia mitologi kami. Jadi kau dan temanmu akan dibawa ke dunia kami” kata anak itu.

“Apa? Nggak, nggak, aku nggak mau” kataku. “Nggak bisa begitu, Clarence! Kalau kau dan temanmu si Tyler Tyler itu tetap disini, kalian akan dimanfaatkan oleh Loki si Jahat itu!” kata si elf.

Aku nyaris nggak percaya. Padahal, Tyler pun belum tahu. “Tapi Tyler belum tahu tentang ini” kataku. “tenanglah, aku baru saja mampir ke rumahnya tadi. Jadi, kau mau kan? Tyler setuju” kata si elf.

“Bagaimana dengan ibuku?” tanyaku lagi. “Aduh, Clarence, tenanglah. Tenanglah, cantik. Ibumu sudah diberitahu oleh pemimpin elf lewat mimpi. Jadi, bagaimana?”
Aku bingung. Aku nggak mau terus terjebak dalam cerita aneh ini. “Iya, aku mau” kataku akhirnya. “Bagus!!!!” kata si elf. Ada yang hampir lupa kutanyakan, untung aku ingat. “Hei! Jadi tak ada dewa yang perlu diselamatkan?” tanyaku.
“Sayangnya ada, Clarence. Hmm, beberapa hari lagi aku akan menjemputmu dan Tyler ya! Di laboratorium biologi, pulang sekolah, oke? Dah!” katanya. Aku penasaran dan bertanya lagi kepadanya “Siapa dewa itu?”
Ting! Terlambat. Elf itu langsung menghilang, dan masih ada berpuluh puluh pertanyaan lagi dikepalaku.

1 comment: