Bab 1
Aku Hampir Di Skors Sebulan Oleh Guru Kelasku
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan sekaligus membosankan. Sekolahku masuk siang, tidak seperti biasanya yang masuk pagi. Kakak kelas sembilan sedang Ujian Sekolah menjelang Ujian Nasional, jadi kelas yang lebih rendah dibawahnya menjadi masuk siang. Yah, kalian tahu kan, panas sekali. Semangat belajar jadi berkurang karena itu. Lalu…. Ngantuk. Itu pasti.
Aku menyebut hari ini hari yang melelahkan karena hari ini, semua guru yang mengajar di kelasku hari ini mengadakan Ulangan Harian. Dan masalah terbesarya adalah: aku-belum-belajar. Yaa, bagi seorang anak perempuan yang biasa, nggak terlalu pintar seperti aku, Ulangan itu sih biasa biasa saja, mau dapat nilai berapapun, itu sudah merupakan hasil kerja murni kita sendiri. kriteria anak-anak yang cuek seperti aku, malas mencontek.
Namaku Clarence, Clarence Martinez. Umurku 13 tahun. Kalau kau mau tahu seperti apa aku, kujelaskan sedikit, deh. Aku itu cuek, childish, dan…punya sifat yang selalu ingin tahu. Yah, aku sering sih membuat ‘sedikit’ masalah di sekolah. Misalnya, di laboratorium biologi ada sebuah ular yang di letakkan di sebuah toples di air. Masih hidup, sih. Tapi karena aku penasaran, aku membuka tutup toplesnya. Ular itu meloncat keluar dan dengan cepatnya hewan itu keluar laboratorium biologi dan membuat semua panik (setelah aku membuat kalimat ini, aku baru berpikir, memangnya ular bisa meloncat ya? Sudahlah lupakan.)
Untung saja, sebelum ular itu berhasil melarikan diri, penjaga sekolahku bisa menangkapnya dan menaruhnya lagi di dalam toples itu. Aku nggak dapat skors sih, tapi aku disuruh piket membersihkan laboratorium biologi selama sebulan penuh. Masih lumayan kan daripada aku di skors? Paling nggak, orang tuaku nggak perlu tahu tentang kejadian ini, jadi aku nggak di ceramahi selama dua jam penuh di rumah.
Kulanjutkan ya ceritaku tentang hari ini. Hari ini membosankan juga karena semua anak di kelasku kecanduan berbagai cerita tentang mitologi Yunani, Skandinavia, Mesir, dan lain-lain. Perlu kau tahu ya, aku paling tidak tertarik dengan hal yang seperti itu. Jadinya, aku selalu sendirian seharian ini. Teman-temanku yang lain tidak mau ke kantin, tidak mau bermain di kelas. Yah begitulah.
Dan yang menceritakan semua mitologi-mitologi itu adalah temanku yang paling kutu buku, namanya Tyler. Dia eksis loh. Pintar, dia juga lumayan ganteng, menurutku.
Lamunanku terbuyar. Aku dipanggil oleh Mom di luar. Dari tadi aku nggak ngapa-ngapain, hanya melamun saja di kamar. “Clarence! Keluar cepat!” “Iyaaaaa” dan akupun bergegas keluar. Dan tebaklah, siapa yang kutemui di ruang tamu.
Guru kelasku, Mrs. Edmund. Deg… jantungku berdegup kencang. Aku kena masalah apa lagi, sih? Aduh. Mom menyuruhku untuk menyambut Mrs. Edmund sedangkan Mom sendiri membuatkan minuman untuk Mrs. Edmund. “Silahkan duduk, Bu” kataku. “Ohaha, terimakasih Clarence” kata Mrs. Edmund, memandangiku.
Semenit. Dua menit. Aku dan Mrs. Edmund diam, nggak ngobrol. Akhirnya, Mrs.Edmund membuka obrolan. “Clarence, ibu ingin bertanya sesuatu.” Begitu katanya. “Ya, bu?” jawabku pelan. Nyaris tak terdengar suara. Jujur, aku deg-degan nih.
“Ibu melihatmu membawa lari sebuah prakarya 3 dimensi dari laboartorium biologi kemarin sore. Betul?” ujar Mrs. Edmund. “APA? Prakarya biologi? Aku nggak pernah melihatnya, Bu. Seperti apa? Kemarin kan aku pulang duluan Bu, gara-gara agak nggak enak badan. Sungguh bu, aku nggak bohong”
Demi Tuhan, aku bingung. Aku sama sekali nggak tahu-menahu tentang kejadian yang barusan dituduh oleh Mrs. Edmund. Prakarya apa? Kemarin? Bingung. Bingung. Bingung. Kok tiba-tiba Mrs. Edmund bisa sih menuduhku melakukan hal yang nggak mungkin kulakukan? Aku harus minta penjelasan.
“Ya, kemarin ibu lihat kamu membawa lari sambil mengendap-endap keluar laboratorium membawa sebuah prakarya biologi. Itu sekitar jam… 5 sore lah. Jangan bohong Clarence. Ibu yakin itu kamu. Serius, kalau kamu mau ngaku, ibu nggak akan mempermasalahkan ini lebih panjang, bahkan sampai masuk ruang BK. Ayolah Clarence. Ngaku aja nggak papa kok” Mrs. Edmund berkata semakin meyakinkan bahwa aku melakukannya, tapi serius, aku nggak pernah nekat melakukan hal segila itu.
“Tapi Bu, aku benar-benar nggak pernah melakukan hal itu. Kemarin aku pulang awal Bu, dijemput Mom. Kalau ibu nggak percaya, Ibu bisa tanya sendiri ke Mom, kok. Moooom!!!!” kataku sambil memanggil Mom.
Mom datang sambil membawa tiga gelas orange juice. “Ya, ada apa sih Clarence?” Aku dan Mrs. Edmund menjelaskan semuanya. Aku hanya tinggal berharap, Mom akan memihakku. Aku benar-benar nggak ngelakuin semua hal yang dituduh Mrs. Edmund.
“Iya, Mrs. Edmund. Kemarin Clarence pulang lebih awal karena badannya agak nggak enak. Jadi dia nggak mungkin melakukan semua hal yang Mrs. Edmund bilang tadi” fiuh, akhirnya Mom membelaku.
Mrs. Edmund mengerutkan dahi. Sepertinya ia nggak percaya. “Tapi… saya betul-betul melihat Clarence keluar dari laboratorium biologi. Mengendap-endap.” Hening sejenak. Raut muka Mom berubah. Mom panik, terlihat dari air mukanya. Pasti ada sesuatu, Mom menyembunyikan sesuatu yang penting dan nggak aku tahu.
“Baiklah, Clarence, besok Ibu tunggu di ruang BK, saat jam istirahat.” Kata Mrs. Edmund lagi sambil meneguk sedikit orange juice, beranjak dari sofa dan bergegas keluar. Mom masih tertegun. “Mom?” kataku. “Oh, ya, Clarence? Eh, mana Mrs. Edmund?” Mom tersadar dari lamunannya.
“Sudah pulang, Mrs. Edmund baru saja pulang. Ada apa Mom? Kau kelihatan panik,” kataku. Mom kembali tertegun, yang membuatku semakin penasaran saja. “Hmm, Clarence, Mom agak pusing. Mom mau ke kamar sebentar dulu deh.” Kata Mom sambil beranjak dan masuk ke kamarnya, meninggalkan aku sendiri di ruang tamu, dengan berbagai pertanyaan yang ada di otakku.
Hari ini aku sama sekali nggak bersemangat untuk berangkat sekolah. Mrs. Edmund pasti akan memojokkanku habis-habisan nanti di ruang BK. Ingin bolos aja deh, rasanya. Tapi mau nggak mau, aku tetap saja sampai di sekolah. Huh.
Di kelasku, masih ramai membicarakan tentang Mitologi Skandinavia, Yunani, Mesir dan semacamnya. Tiba-tiba speaker kelasku berbunyi. Suara Mrs. Edmund. “Perhatian kepada Ananda Clarence Martinez dan Tyler Longneck diharapakan segera menuju ruang BK, sekarang. Sekali lagi, kepada Ananda Clarence Martinez dan Tyler Longneck, diharapkan segera menuju ruang BK, sekarang. Ditunggu oleh Mrs. Edmund. Terima kasih.”
Hah? Tyler juga mendapat masalah dengan mrs. Edmund? Yaampun. Serentak satu kelas memandangku dan Tyler. “Hei, Clarence. Ayo ke ruang BK” ajak Tyler. “Eh? Ayo deh” jawabku. Saat kami berdua berjalan menuju ruang BK, setiap anak yang kami lewati pasti memandang aneh ke arah kami. Ah, kalau kau mau tahu rasanya dipandangi seperti itu, coba deh kau tumpahkan seluruh orange juice ke baju seragam yang kau pakai, dan menyusuri koridor dari kelas ke kelas. Dijamin malu, deh.
Setelah aku dan Tyler sampai di ruang BK, Mrs. Edmund segera mempersilahkan kami masuk. Yah, siap-siap aja dituduh macam-macam. Aku gugup, dan sepertinya Tyler juga seperti itu. Ada Mrs. Eriaena juga, guru BK.
“Ibu masih mau membicarakan tentang kejadian di lab biologi beberapa hari yang lalu. Ibu masih tidak yakin kalian tidak bohong. Sebaiknya jujur saja, Tyler, Clarence, kalian mengambil prakarya 3 dimensi itu kan?” kata Mrs. Edmund. Mrs. Eriaena hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk. (Menurutku, kalau saja suasananya sedang tidak tegang, pasti aku akan tertawa melihat Mrs. Eriaena seperti itu)
Kembali ke masalah. Ternyata Tyler juga kena masalah yang sama sepertiku. Di fitnah. Memangnya Mrs. Edmund nggak mikir apa ya, mana mungkin aku dan Tyler melakukan kejahatan nekat itu. “Kalian berdua merencanakan pencurian ini kan? Tak lama setelah aku melihat Clarence keluar mengendap-endap, lalu aku melihat Tyler keluar menyusul Clarence” kata Mrs. Edmund.
“Bu, berapa kali aku harus bersumpah, sih? Aku nggak pernah melakukan hal itu. Nggak pernah! Bahkan aku pada saat kejadian yang ibu bilang itu, aku nggak masuk sekolah! Aku sedang sakit waktu itu, Bu” sepertinya Tyler mulai emosi. Iya, sih. Seingatku, Tyler memang nggak masuk. Dia sakit. Sekarang gantian aku yang berbicara.
“Aku juga nggak mungkin ada di sekolah pas kejadian itu Bu. Aku kan pulang duluan gara-gara nggak enak badan. Ibu juga sudah dengar sendiri kan pengakuan dari Mom? Please Bu, jangan fitnah aku dan Tyler seperti ini!” kataku meredam emosi. Tanganku sudah berkeringat. Ini adalah pertama kalinya aku melawan guru.
Kemudian Mrs. Edmund berbicara kepada Mrs. Eriaena. “Saya beneran tidak bohong, Er. Saya betul-betul melihatnya, melihat mereka keluar dari laboratorium biologi” kulihat Mrs. Eriaena bingung. Ia menatapku dan Tyler, lalu kembali memusatkan pandangannya pada Mrs. Edmund.
“Tapi, keterangan dari kedua anak ini sangat tidak memungkinkan. Mereka tidak ada di sekolah pada saat Mrs. Edmund melihat tragedi pencurian itu. Dan bisa disimpulkan, itu bukan Clarence dan Tyler. Aku percaya mereka. Mereka tidak jadi diskors selama sebulan, Mrs. Ed” kata Mrs. Eriaena. Pembelaannya tadi sangat memuaskanku. Dan aku melihat perasaan itu juga dari wajah Tyler.
“Diskors satu bulan?” tanya Tyler kepada Mrs. Eriaena. “Ya, Mr. Longneck. Kalian hampir saja diskors satu bulan atas tuduhan pencurian itu.” Huh, untung saja ada Mrs. Eriaena. Kalau tidak, bisa kena ceramah empat jam penuh nih oleh Dad.
Mrs. Eriaena mengantar aku dan Tyler kembali ke kelas. Hampir satu jam tadi kami berada di ruang BK. Masih ada satu pertanyaan yang ada di otakku, siapa yang Mrs. Edmund lihat kalau itu bukan aku dan Tyler?
Aku sampai di rumah. Mom menyambutku seperti biasanya. Aku segera ganti pakaian dan kembali ke ruang makan untuk makan siang. Sebenarnya, bukan makan siang sih, makan sore. Sekarang pukul 15.20 (memangnya ada makan sore? Haha)
“Clarence, bagaimana kelanjutan kasus yang dituduh Mrs. Edmund padamu?” kata Mom. Aku menjelaskan semuanya. Mom malah tertawa mendengar ceritaku. Nekat, aku bertanya. “Berarti kalau yang Mrs. Edmund lihat bukan aku dan Tyler, berarti siapa dong?”
Raut muka Mom berubah. Ia panik. “Mom?” kataku. “Clarence, Ibu ingin menceritakan sesuatu yang sangat penting. Tapi Ibu harap kau percaya ya?” kata Mom. “Iya, Mom. Pasti.” Jawabku. Tapi kali ini aku nggak yakin, bisa percaya Mom atau tidak. Hatiku berkata begitu.
“Ibu jelaskan, ya Clarence,” kata Mom, ia menghela napas panjang. “Mom, Grandma, Buyut yang semua dari garis keturunan Mom, itu adalah utusan Dewa Forseti”
“Mom bercanda” kataku. “Kau dengar dulu. Mom lanjutkan. Berarti, kau juga. Kau keturunan Dewa Forseti. Dan sebuah ramalan menyebutkan…” Mom menghela napas lagi. “Salah satu utusan Dewa Forseti akan ditiru oleh Loki, Si Penipu. Itu kau, dan Tyler. Yang dilihat Mrs. Edmund itu Loki. Dan itu pertanda bahwa, para Dewa membutuhkan bantuan kalian…”
Mendadak jantungku berdetak lebih cepat. Dewa Forseti? Dewa Keadilan dalam Mitologi Skandinavia? Dan, keluarga Tyler juga salah seorang utusan Dewa? Sungguh, ini sulit dipercaya. Dan Loki. Si penipu dan pengacau. Yang melawan para Dewa di Asgard dan akan mewujudkan Ragnarok, takdir para Dewa. Yang pernah kudengar bahwa Dewa- Dewa akan mati dalam tragedi Ragnarok itu.
“Mom…” aku gugup. “Kalau begitu, salah satu dewa sedang dalam bahaya dong…” akhirnya aku berhasil bicara.
comment ya please, thanks
ReplyDeletecit.... ini beneran? Mrs. Ed itu siapa?hahaha
ReplyDelete....ntar bulik save dlu yaaa,, bis bca tk comment d...
ReplyDeletekayaknya ada yang mirip sama sekolah yg sebenarnya, cuma diplesetin dikit. ya kan cit?
ReplyDeleteKaga ada pilihan reaksi yg jelek ya? Wkwkwkwkwk
ReplyDelete